Archive for October, 2010

Dalam setiap usaha makanan yang harus diperhatikan adalah rasa dari masakan tersebut. Rasa berkaitan dengan pemilihan bahan baku. Karena itu, harus menggunakan bahan baku dan bumbu yang segar. Tak ketinggalan proses pemasakan yang baik akan menghasilkan masakan yang enak dan berkualitas. Namun, jika aspek kualitas makanan itu sudah diperhatikan, tak ketinggalan yang menjadi bagian penting adalah bagaimana cara mempromosikan menu tersebut ke khalayak umum. Display makanan yang menarik dan tempat usaha yang bersih tentu akan membuat konsumen tertarik.

Promosi dapat dilakukan dengan banyak cara mulai dari yang sederhana yaitu menyebar brosur, memasang spanduk di lokasi usaha maupun yang mempunyai budget yang banyak bisa memasang iklan, baik di media cetak maupun media elektronik. Dan, bagi anda yang familiar dengan dunia maya, bisa mempromosikan melalui blog dan jejaring sosial sperti twitter dan facebook.

Selain berpromosi, langkah penting yang harus diperhatikan pelaku usaha adalah memberikan pelayanan yang baik dan makanan yang enak, sehingga memuaskan konsumen. Kepuasan konsumen ini bisa membuat konsumen melakukan pemasaran mouth by mouth yang tentunya sangat ampuh pengaruhnya. Anda juga perlu sering-sering mengajak konsumen berbincang mengenai makanan yang Anda jual dan mintalah khitik dan saran dari mereka. Dengan rajin berkomunikasi dengan konsumen, maka bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan usaha anda.

Nah, karena usaha makanan, maka harus diperhatikan kemasan yang berkualitas baik. Gunakan kemasan makanan yang aman dan telah masuk dalam kategori food grade. Misalnya dus yang menggunakan kertas dupleks dan plastik mika. Tidak hanya itu, bentuk kemasan yang menarik menjadi nilai tambah. Serta jangan lupa untuk mencantumkan nama, logo dan alamat usaha anda. Satu hal penting yang harus menjadi perhatian adalah, jika usaha anda telah maju dan memiliki banyak cabang, jangan lupa untuk mengontrol kualitas makanan. Karena jika konsumen kecewa di salah satu cabang, maka akan membuat konsumen berpaling ke tempat lain. Nurfitriyanti.

Komunikasi dengan Pembeli untuk Meminta Masukan

Komunikasi dengan Pembeli untuk Meminta Masukan

Kota Kupang adalah ibu kota provinsi Nusa Tenggara TimurIndonesia. Luas wilayah adalah 180,27 km² dengan jumlah pendududuk sekitar ±265.000 jiwa. Daerah ini terbagi menjadi 4 kecamatan dan 45 desa.

Kupang

Kupang

Kota ini menyimpan banyak pesona, khususnya penggemar sea food. Wisatawan yang berkunjung ke kota ini biasanya terkesan dengan ikan bakar yang ukurannya besar-besar dan harga relatif murah. Dinikmati dengan sambal khas kupang, tentu wisatawan akan langsung berjanji pada diri sendiri : “suatu saat nanti, beta akan kembali lagi”. Juga cumi, udang segar yang mengeluarkan aroma manis ketika dibakar mengundang selera. Disamping itu, wisatawan juga akan disuguhkan salah satu makanan khas kota Kupang “jagung bose”. Makanan yang dibuat dari campuran jagung dan sayuran serta biji-bijian (biasanya kacang hijau dan kacang tanah). Ada juga daging se’i yaitu daging sapi atau daging babi yang diasap dan dicampur susu, garam dan rempah-rempah sehingga rasanya ada yang manis dan juga asin. Kota ini juga memiliki pesona wisata karena memiliki pantai pasir putih yang indah dan laut biru yang cantik yang sejak beberapa tahun ini menjadi langganan persinggahan peserta lomba perahu layar internasional. Satu lagi yang unik adalah penjual jagung bakar yang terbentang sepanjang trotoar di jalan ElTari (depan kantor gubernur) menjadi tempat favorite pemuda/i kota kupang. lihat Kupangonline.

Ayam Goreng Fatmawati dalam proses untuk masuk ke Kota Kupang. Minggu, 7 November 2010 tiga orang calon karyawan akan segera dikirim ke kantor pusat di Bogor. Semoga pertengahan Desember 2010 Ayam Goreng Fatmawati bisa melayani masyarakat Kupang dengan baik.

Tags: , ,

admin October 26th, 2010      5 Comments »

Jum’at malam 22 Oktober 2010 tim franchise & marketing Ayam Goreng Fatmawati berkesempatan datang ke pusat kuliner Bintaro Sektor 9 atau dikenal dengan Bintaro 9 Walk-Tangerang. Tiba sekitar pukul 19.30 dibawah langit yang sedang menurunkan titik-titik gerimis air hujan, lokasi yang dituju terlihat ramai pengunjung yang memarkirkan kendaraannya di sepanjang area parkir yang tersedia di setiap restoran dan tenda warung makan.

Bertemu dengan Pak Hendri dan Pak Imam, pemilik dan pengelola dua ruko dengan halaman yang tertutup kanopi untuk menempatkan meja dan kursi makan, khas lingkungan di sepuratan Bintaro 9 Walk. Rupanya beliau berdua cukup senang dengan bisnisnya di Bintaro 9 Walk. Dengan omset dua outlet makanannya : pisang pontianak dan aneka mie, serta beberapa outlet/stall makanan lainnya yang mencapai Rp. 3 juta per hari, sejatinya bisnis sudah bisa jalan. Namun Pak Hendri memandang bahwa sebenarnya potensi yang dimiliki bisa jauh lebih baik lagi.

Menilik beberapa bisnis franchise menawarkan kerjasama, Pak Hendri seakan enggan untuk “kembali” ambil resiko kegagalan. “Saya sudah empat kali ambil franchise, tidak ada yang sukses. Terkahir saya habis 400juta untuk franchise lembaga pendidikan, sampai saat ini belum terlihat tanda balik modal”.

Wajar ketakutan dari Pak Hendri, karena sebagai franchisee tentunya berhadap besar kepada franchisor agar investasinya cepat kembali. Namun perlu diingat, franchising bukan berarti franchisee hanya menanamkan uang, lantas berharap modalnya segera kembali tanpa perlu kerja keras mengelola dan menjual bisnisnya. Franchising hanya salah satu cara untuk meminimalkan resiko kegagalan, mempersingkat proses trial & error, memanfaatkan nama merek (brand) yang sudah terkenal. Namun tetap, perlu keterlibatan langsung dari pengelola dalam menjalankan bisnisnya. Istilahnya, franchisee yang ikut nyebur kemungkinan sukses-nya akan lebih tinggi dibandingkan franchisee yang hanya menanamkan modal dan menunggu uangnya kembali.

Namun bukan tanpa solusi bagi investor semacam Pak Hendri yang hampir paranoid dengan sistem franchise karena berkali-kali gagal di bisnis ini. Ada beberapa franchisor yang menawarkan konsep operasional dari kantor pusat franchisor. Tentunya dalam hal ini, si franchisor tidak akan gambling melakukan approval terhadap lokasi yang masih meragukan potensinya. Karena selain tim franchisor yang akan direpotkan dengan angka penjualan yang rendah, juga akan merusak reputasi franchisor dimata franchisee-nya.

Layak Franchise-kah?

Layak Franchise-kah?

Tags: , , ,

admin October 25th, 2010      No Comments »

Dalam bisnis franchise, terdapat 2 biaya yang dikenal sebagai kompensasi dari hubungan franchisor-franchisee, yaitu :

  1. Franchise Fee
  2. Royalty Fee

Franchise fee atau biaya awal waralaba adalah biaya yang harus dibayarkan dimuka sebelum gerai waralaba Anda mulai beroperasi. Pada prinsipnya biaya ini dibayarkan untuk :

  • Lisensi atau hak untuk menggunakan merk yang diwaralabakan selama jangka waktu waralaba
  • Hak untuk menggunakan (meminjam) pedoman operasional selama jangga waktu waralaba

Berapa besarnya? Tergantung kebijaksanaan franchisor. Tapi sejatinya ini sangat penting untuk anda tanyakan, apakah biaya awal waralaba telah termasuk hal-hal berikut :

  • Survey Lokasi
  • Design layout
  • Informasi berupa daftar inventory awal, termasuk stock barang yang dibutuhkan
  • Sourching (pencarian supplier) untuk initial inventory dan stock barang
  • Bimbingan dan diskusi untuk menyusun business plan
  • Rekrutmen dan tau seleksi para pegawai mula-mula
  • Penyelenggaraan pelatihan awal
  • Supervisi dan eksekusi launching

Royalty Fee adalah biaya yang harus dibayar setelah gerai waralaba mulai beroperasi. Pada umumnya pewaralaba menetapkan pembayaran  harus dilakukan setiap awal bulan, misalnya sebelum tanggal 10 setiap bulan.

Metode royalty ini beragam, manun pada umumnya berupa persentase terhadap setiap penghasilan yang diterima franchisee, dengan mengecualikan unsur pajak, bila ada.

Ada yang menetapkan flat, berapapun omset yang diraih franchisee maka prosentasenya tetap tidak berubah. Namun ada juga yang melakukan penetapan persentase progresif sesuai dengan nilai penjualan franchisee dengan batasan minimal omset tentunya.

Pada prinsipnya, royalty fee ada dan digunakan untuk :

  • Kelangsungan operasional pewaralaba dalam kaitannya dengan bimbingan berkesinambungan bagi para terwaralaba
  • Pelaksanaan aoudit waralaba dan evaluasi bisnis yang keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bimbingan berkesinambungan.
  • Penelitian dan pengembangan (R&D)
    Pengelolaan merk dan strategi pemasaran

Tags: ,

admin October 25th, 2010      1 Comment »

Juragan Bakwan Jagung

Juragan Bakwan Jagung

Ayam Goreng Fatmawati Juaranya Bakwan Jagung..Hehehe..Kalo makan disini lebih enak Pesen yang Paket aja..Biasanya gue pesen paket 2 terdiri dari : Ayam Goreng, Sayur Asam, Lalapan, sambal dan tak lupa satu buah bakwan jagung yang rasanya benar2 mak nyusss banget..Sayur asamnya juga segar di lidah ditambah dengan sambalnya yang membuat makanannya pas rasanya.. harga untuk paket 2 : Rp. 16.000,- diluar pajak.. Kalo mau tambah bakwan jagung lagi hanya menambahkan Rp. 2.000,-/pcs.. Rasanya benar-benar luar biasa nikmatnya..Dijamin gak nyesel kalo pesen makanan ini.

Sumber : http://www.urbanesia.com/profile/ayam-goreng-fatmawati-12/review/

Tags: ,

admin October 8th, 2010      No Comments »

Delicious Restaurant designed by Free Wordpress Themes | Wordpress Themes | Hosting und Webspace