Archive for March, 2009

Sabtu, 21 Maret 2009 saya ngobrol dengan Pak Erang, peternak ayam sukses dari Bandung dalam sebuah forum di Belezza Permata Hijau. Sebagai supplier ayam ke beberapa restoran besar, tentunya pengalaman kuliner Pak Erang tidak perlu diragukan lagi. Beliau banyak cerita tentang beberapa restoran besar dengan menu utama ayam goreng atau ayam bakar. Sampai saat mulai membicarakan Ayam Goreng Fatmawati, beliau berkomentar “Masakannya jauh lebih enak dibandingkan dengan restoran “XX” (nama restoran ternama, disamarkan). Jadi Pak Johan (saya) jangan mengira hanya karena kasus poligami Pak YY restoran XX banyak yang tutup. Dari sisi rasa, Ayam Goreng Fatmawati jauh lebih enak dibandigkan XX, jadi wajar saja kalau mereka banyak yang tutup.
Saya tergaket mendengar pernyataan Pak Erang, bukan karena kami baru mengetahui atau sekedar ego bahwa rasa masakan Ayam Goreng Fatmawati lebih unggul dibandingkan masakan XX, namun ini menggambarkan bahwa lidah konsumen dapat memberikan penilaian yang sangat objektif.
Intinya adalah, dalam bisnis restoran, kepuasan pelanggan itu adalah yang utama. Mungkin Pak Erang tidak pernah menyampaikan kekecewaan yang dialaminya kepada management restoran XX, namun yang jelas, kabar tersebut sampai kepada saya yang bukan pihak internal restoran XX, bahkan mungkin saya adalah salah satu customer yang merasakan hal sama.

Hari Jum’at jam 13.30 Ibu Christine Novita bersama bunda-nya, Ibu Aris, datang langsung dari Semarang ke kantor PT. Ayam Goreng Fatmawati Indonesia di Kinanti Office Hotel Salak Bogor. Itulah bukti keseriusan Ibu dan Anak ini dalam mengelola Ayam Goreng Fatmawati di wilayah Semarang.
Sejak mulai bekerja sama tiga tahun yang lalu, praktis kerja sama antara PT. AGFI dengan Ibu Christine tidak menemui kendala yang berarti. Komunikasi begitu lancar melalui telpon, SMS, e-mail, pokoknya semua media komunikasi kami gunakan untuk memperlancar komunikasi.
Ibu Christine sangat terbuka jika menemui kendala dalam operasional, seperti yang pernah dihadapi mengenai karyawan yang meninggalkan AGF hanya beberapa bulan setelah menjalani training. PT. AGFI memberi solusi dan solusi itu terbukti efektif dijalankan di AGF Semarang. Saat Ibu Christine gundah karena tetangga kiri-kanan mulai ikut menjual ayam goreng, kita coba dengan variasi menu baru dan ternyata juga berhasil menarik konsumen, karena AGF menjadi satu-satunya penyedia masakan bebek goreng di sekitar lokasi.
Karena tergiur dengan tingginya omset AGF ini, outlet tetangga yang awalnya jual mie, kopi, steak, chinesse food mulai beralih menjual ayam goreng. Namun, sebagai trend setter, Ayam Goreng Fatmawati tidak pernah kehabisan ide untuk menarik konsumen. Kami masih punya banyak menu baru, banyak strategi baru untuk memenangkan persaingan. Langkah yang sangat tepat bagi Ibu Christine jika hari ini beliau menandatangani perjanjian franchise untuk memperpanjang masa lisensi Ayam Goreng Fatmawati di Duta Pertiwi Mall.

Paragon City, Semarang

Paragon City, Semarang

Pada pertemuan itu juga Ibu Christine memaparkan rencana pembukaan AGF di Paragon City-Semarang, pusat perbelanjaan di bilangan Jl. MH. Thamrin yang saat ini baru 60% dibangun. Konsultasi mengenai lokasipun terjadi dan kami memutuskan untuk buka restoran disana dengan space 51 m2. Semoga projek kedua Ibu Christine di Semarang ini berjalan dengan jauh lebih baik lagi, tentunya dengan kerja keras tim AGF Semarang didukung oleh management PT. AGFI.

Setelah beberapa kali merencanakan untuk datang ke kantor PT. AGFI di Hotel Salak Bogor, batal dengan alasan tidak ada teman, kami anggap wajar, karena beliau ini dari Banda Aceh, mungkin tidak tahu daerah Bogor fikir kami waktu itu.

Rupanya Bapak Mardiansah adalah keturunan Aceh yang lahir di Semarang dan saat ini menetap bersama keluarga di Jakarta. Tapi saya salut dengan semangat mengembangkan daerahnya, tanpa disadari beliau menceritakan bahwa untuk kegiatan ekonomi dan bisnis, Banda Aceh jauh lebih kondusif dibandingkan dengan Jakarta. Beliau merasa yakin bahwa Ayam Goreng Fatmawati yang akan dibawanya ke Banda Aceh akan mendapatkan perhatian dari masyarakat.

Ayam Goreng Fatmawati memang telah hadir di Takengon-Aceh Tengah, lebih dari 9 jam perjalanan dari Banda Aceh. Itu yang kemudian membuat motivasi pengusaha muda ini terus bergejolak, terlebih salah satu saudara-nya di Aceh, telah mencicipi lezatnya masakan Ayam Goreng Fatmawati di Takengon yang membuat keyakinan keluarganyapun semakin tinggi.

Pak Mardiansyah, setelah mengisi kuisioner dinyatakan sebagai Calon Franchisee yang Potensial. Semoga kerjasama bisnis ini bisa terlaksana dan berjalan sesuai rencana kita : sukses dan menghasilkan laba berlimpah.

Hasil Kuisioner Calon Franchisee

Hasil Kuisioner Calon Franchisee

sharing-franchisee

Baru saja selesai pertemuan yang dinakhodai Bpk. Firman sebagai marketing manager PT. AGFI dengan Ibu Yenti dan Ibu Helen sebagai franchisee Ayam Goreng Fatmawati. Selain sosialisasi rencana program promosi bersama Indomaret dan program kerjasama dengan PT. Sinar Sosro, pertemuan kali ini dimanfaatkan pula untuk sharing pengetahuan dan pengalaman selama mengelola restoran Ayam Goreng Fatmawati.

Kenny, tim supervisor AGF Bogor Trade Mal (BTM) dan Ekalokasari mengutarakan beberapa permasalahan yang dihadapi selama bertanggung jawab sebagai supervisor kedua AGF yang dikelolanya. Gayung bersambut, tanpa diminta oleh pihak PT. AGFI, Ibu Yenti seorang franchisee AGF yang telah delapan tahun bergabung dengan AGF dan telah banyak mencicipi asam garam pengelolaan AGF memberikan penjelasan dengan sangat gamblang, sederhana, mengena dan aplicable serta tidak disadari bahwa permasalahan sebenarnya yang dihadapi Kenny adalah memonitor dan memastikan penerapan SOP supaya berjalan dengan baik.

Begitu banyaknya yang didiskusikan dan dijelaskan oleh Ibu Yenti, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 13.00. Akhirnya kami sepakat mengakhiri pertemuan ini dengan hasil yang didapat oleh masing-masing pihak berupa solusi yang sangat berharga.

Semoga forum ini bisa terus berlanjut dan berkembang menjadi lebih besar.

Hehehe kalo pernah dengar namanya Sizzler pasti yg kebayang adalah Saladnya yang asiiiik banget… tentunya juga ada Steak, dlsb yg bisa bikin ngacay suracay ngabarabay ;) … tapi tentunya harganya ngak kuat nanjak n’ bisa bikin kantong bolong :D .
Naaah Aa mo cerita makanan paporit Aa kalo lunch yg juga seneng banget salads sebage appetizer hehehe… tapi bedanya ini Traditional Salads Van Indonesa mixed with Sambel biasanya Aa pake sambel tomat + terasi + ketchup + oncom + taucho di mix biar asiiik abis ituh … traditional salad as you can see below di mix + di coelin… aseeeeekh. Yummy ngak kalah lezatnya dibandingkan Sizzler :D .
Nah abis itu maincourse-nya biasanya Ayam Bakar / Goreng Khas Fatmawati + tahu tempe :D … minumnya teh tawar angat yg cur rot (agak panas) … jadi seperti dilihat Aa sekarang gemukan hehehe… dulu pas blom kawin 55 kg sekarang 75 -80 kg tergantung fitness hehehe :D . Dan pastinya traditional salads ini sehat banget buat badan :D . Main course-nya juga ajiiiiib… inih khas restoran fatmawati yg ayamnya juga ayam pejantan jadi low colesterol hehehe :D . Bosen sama ayam ada juga Sop Iga Goreng (abis makan inih wajib fitness), ada aneka pepes, ikan, daging (empal,dlsb), hehehe kalo sore brani juga makan semur jengkol… kalo siang buat lunch no way!!!! ntar clients Aa bisa lari terbirit-2 hehehe.

Hermawan Kartajaya dalam “Marketing in Venus” pernah menulis bahwa konsumen di bumi ini sudah mulai emosional dalam menjatuhkan pilihan pada produk-produk kebutuhannya. Akhir tahun 2008 Hermawan Kartajaya berdasarkah hasil riset bersama tim-nya di MarkPlus menyimpulkan bahwa saat ini komsumen telah benar-benar emosional. Dalam “New Wave Marketing” Hermawan Kartajaya melukiskan bahwa saat ini setiap customer bisa mengekspresikan dirinya dengan sebebas-bebasnya. Pendapat ini didukung pula oleh Yuswohadi (masih dari MarkPlus) dalam bukunya “CROWD” yang menyatakan konsumen saat ini semakin narsis, semakin ingin dianggap beda, diperlakukan beda, punya jati diri sendiri, sehingga tidak bisa lagi dianggap sebagai trend, tetapi crowd.
Salah satu kebebasan berekspresi itu adalah melalui media internet. Siapa yang tidak kenal friendster, facebook, multiply, blogger, wordpress dll. Dalam media pertemanan, media mengekspresikan diri tersebut orang berlomba-lomba untuk menampilkan jatidirinya. Saya pengguna friendster dan multiply dan saya banyak mengunggah foto-foto saya ke dalamnya sebagai tanda bahwa ini loh tampang saya. Bahkan, supaya orang tahu bahwa saya pernah pergi ke luar negeri, segaja saya pasang foto saya saat diapit dua gadis Korea berbusana tradisional. Saya sudah sangat narsis.
Lalu, apa dampaknya bagi bisnis yang kita kelola, misalnya bisnis restoran yang saat ini saya geluti? Banyak sekali, pujian, review, komentar, saran, keluhan/complain dll banyak sekali yang tanpa tendeng aling-aling bahkan disampaikan dengan kalimat yang lugas di media internet. Semua seakan tanpa border, kejadian hari ini di restoran yang berada di Bali bisa langsung diketahui oleh pengguna internet di Jakarta misalnya.
Lalu, bagaimana bentuk ekspresi yang dikeluarkan oleh customer kita? Sangat beragam….Coba tilik beberapa halaman website berikut ini dan anda bisa menilai betapa powerfull media internet sebagai sarana propaganda kebaikan maupun keburukan dari banyaknya komentar.
1. Komentar customer AGF Teuku Umar Bali di sweetrabbit.wordpress.com/2009/01/15/ayam-goreng-fatmawati/,
2. Rekomendasi AGF Blok M Plaza di
http://elokdyah.multiply.com/reviews/item/9
3. Pengalaman service yang lama di AGF Ekalokasari Bogor di blog http://eljomblo.co.cc/hanugrah/5-sehat-6-bencana, dan masih banyak lagi yang lainnya

Adalah langkah yang sangat progresif yang dilakukan Pak Setiawan, franchisee Ayam Goreng Fatmawati dari Bali yang telah meluncurkan http://fatmawati-bali.com (Terima kasih & Penghargaan untuk Pak Setiawan) sebagai salah satu media komunikasi dengan pelanggannya. Komunikasi dengan customer memang harus terus dikembangkan melalui media yang sangat murah ini (internet), walaupun di beberapa lokasi mungkin saya hanya sebagian kecil customer yang memiliki akses internet. Misalnya pada blog MyFatmawati (http://myfatmawati.blogspot.com/2008/11/menu-ayam-goreng-fatmawati-tak-ada_24.html) yang memuat cara mengkonsumsi Ayam Goreng Fatmawati dengan cara Kamu Sendiri. Disini kami memancing customer untuk membuat kreasi kombinasi menu mereka sendiri, dengan harapan agar mereka tidak bosan datang dan bersantap di Ayam Goreng Fatmawati. Bukankah ini “Diputer-Dijilat-Dicelupin” a’la Ayam Goreng Fatmawati dan cara melibatkan konsumen dalam proses bisnis itu sendiri?
Akhirnya apapun isinya, complain maupun bentuk kepuasan yang dicurahkan dalam internet ini, akan memudahkan kita sebagai pengelola untuk mengambil keputusan dan jalan terbaik bagi kepuasan konsumen.

Dalam bisnis restoran ada tiga faktor utama yang sangat menentukan keberhasilannya. Adalah LOKASI-LOKASI-LOKASI. Ya, memang benar. Dalam bisnis restoran, lokasi sangat memegang peran penting terhadap kesuksesan. Lalu muncul pertanyaan “Bukankah ‘Sate Klatak’ di Bantul-Jogjakarta lokasinya jauh dari strategis tapi bisa berhasil?” Memang, warung sate itu bisa berhasil. Namun, butuh berapa lama bagi mereka untuk mendapatkan pelanggan sebanyak saat ini? Atau, butuh berapa biaya promosi untuk memperkenalkannya kepada calon customer?
Lokasi yang strategis mempercepat proses pengenalan dan mengurangi budget promosi, tanpa mengurangi peluang untuk mencapai keberhasilan usaha. Jadi, jangan ambil resiko dengan bujukan marketing mall, pusat perbelanjaan, plaza, square, trade center dll yang menjanjikan bahwa lokasi tersebut bakal ramai pengunjung berbelanja. Selidiki developer dan pengelola pusat perbelanjaan tersebut, Duta Pertiwi, Lippo Group, Summarecon, Agung Sedayu adalah beberapa developer yang jika dilihat dari track record-nya bisa dikatakan baik dan berkomitmen untuk membuat pusat perbelanjaan yang terus ramai pengunjung. Lalu, lihatlah anchor tenant pusat perpelanjaan tersebut. Carrefour, Hypermart, Giant pada umumnya menjadi achor tenant di beberapa mall besar. Namun saat ini kita harus lebih jeli, karena Giant sudah merambah ke pinggiran dengan konsep seperti minimarket. Carrefour saat ini banyak mengembangkan Carrefour Express yang lebih kecil dari Carrefour hipermarket.
Pada umumnya tenant-tenant besar sekelas KFC, McDonalds, J.Co, BreadTalk dll masuk terlebih dahulu sebagai tenant mall. Lantas, apakah mal dimana salah satu space-nya ditawarkan ke kita telah berhasil menarik tenant-tenant besar tersebut. Jika KFC atau bahkan McDonals telah masuk di daftar tenant mereka, maka hampir dapat dipastikan mereka (KFC dan McDonalds) telah menilai lokasi tersebut sangat potensial untuk bisnis makanan. Trik seperti ini pula yang dijalankan oleh Alfamart dan Indomaret dalam penentuan kelayakan lokasi, sehingga saat ini hampir setiap kali kita menemui Alfamart, maka paling tidak dalam jarak 100 meter dari lokasi tersebut beroperasi juga Indomaret, atau sebaliknya. Keuntungannya, mengurangi biaya untuk survey pasar.
Pertimbangkan harga sewa. Dengan konsep makanan tradisional dengan persaingan harga yang ketat, maka margin dari setiap barang terjual tidak bisa lagi lebih dari 100 persen. Karena itu, kami merekomendasikan bahwa biaya sewa atau bagi hasil untuk sewa tempat tidak melebihi 20% dari perkiraan pendapatan per bulan. Dengan demikian, jika potensi konsumen tidak dapat memenuhinya, maka disarankan lokasi tersebut tidak diambil.
Lalu, menurut ActionCOACH yang diulas disini mengenai bagaimana cara meningkatkan profit, tetap harus dijalankan. Bagaimana caranya…? Tunggu edisi selanjutnya di Forum Franchisee Ayam Goreng Fatmawati.

Dalam bisnis restoran, pada umumnya terdapat empat kemungkinan perkembangan penjualan restoran.

  1. Booming pada awal beroperasi dan stabil pada omset tinggi setelah beroperasi cukup lama
  2. Booming pada awal beroperasi dan terjadi penurunan omset secara perlahan tapi pasti
  3. Tersendat pada pertama kali buka, namun makin membaik seiring waktu
  4. Tersendat pada pertama kali buka dan terus menurun seiring waktu.

Setiap pengusaha pasti menginginkan pilihan pertama terjadi pada setiap bisnis restorannya. Tentunya poin pertama hanya akan terjadi bilamana mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi berjalan dengan baik. Dengan kata lain, booming dan bertahan pada omset tinggi adalah kondisi ideal yang menjadi keinginan seluruh pengusaha. Namun, apa yang harus dilakukan untuk mencegah penurunan omset seperti pada point 2 dan 4, atau bahkan omset ingin ditingkatkan lagi seperti point 3? Selain harus melakukan cara-cara ini, bisa juga dengan melakukan promosi yang konsisten.

Karakter manusia pada dasarnya ingin semuanya serba cepat terlihat pengaruhnya. Tak heran jika obat herbal/jamu cenderung kurang diminati masyarakat hanya karena tidak mengakibatkan kesembuhan seketika seperti obat-obatan kimia. Begitu juga dalam berpromosi, banyak yang beranggapan melakukan promosi dalam waktu sebulan namun belum terlihat pengaruhnya merupakan suatu kegagalan berpromosi. Evaluasi memang mutlak diperlukan untuk mengukur efektifitas promosi, namun bukan berarti dalam jangka yang sangat pendek.

Kami sering mendapat keluhan dari beberapa rekanan yang program promosinya mereka nilai belum berhasil. Namun saat saya tanya, berapa lama anda melakukan promosi? Jawabannya cukup mengagetkan, “Dua Minggu”. Untuk lokasi restoran di pusat perbelanjaan, sangat jarang orang berkunjung ke mall yang sama dalam waktu dua minggu. Bisa saja agenda customer berkunjung ke mall tersebut sebulan sekali, sehingga baru terlihat pengaruhnya bulan berikutnya, karena orang yang kita beri informasi tidak serta merta memutuskan langsung untuk kembali ke restoran yang sama saat menerima informasi mengenai restoran yang kita kelola.

Tips Promosi :

  1. Promosi harus konsisten, bagaimanapun kondisi restoran kita : ramai, sedang atau (apalagi) sepi, maka promosi harus tetap dijalankan.
  2. Ketahui apa yang diharapkan customer dari restoran kita, sehingga kita bisa berpromosi sesuai dengan apa yang mereka inginkan
  3. Kreatif berpromosi, temukan cara dan media yang unik
  4. Ketahui waktu-waktu restoran sepi (hari dan jam), lalu buat program untuk menarik orang pada waktu-waktu tersebut
  5. Jangan pernah ada kata puas, teruslah berpromosi sepanjang waktu
Ayam goreng kuning adalah salah satu makanan yang sering ditemui banyak orang karena hampir setiap orang bisa dengan mudah mengolah daging ayam ini dengan bumbu yang salah satunya kunyit. Masakan ini lazim ditemui mulai dari meja makan di rumah sederhana, warung makan kelas kaki lima, bahkan sampai dengan restoran fine dining terkemuka dengan racikan bumbu yang memiliki ciri khas masing-masing, namun tetap memiliki tampilan warna reltif sama : kuning. Menu yang satu ini akan lebih lezat bila disantap dengan lalapan sayuran dan sambal terasi khas sunda.
adalah sebagai berikut :
Bahan
Banyak cara mengolah Ayam Goreng Kuning, salah satunya yang saya dapat disini
  • 1 kg ayam uth, potong2 sesuai selera
  • 2 cm kunyit
  • 8 butir kemiri
  • 2 cm jahe
  • 6 siung bawang merah
  • 3 siung bawang putih
  • 1/2 sdt ketumbar
  • garam
  • air
  • minyak untuk menggoreng

Cara membuat

  1. Haluskan kunyit, bawang merah, bawang putih, jahe, kemiri, ketumbar hingga halus.
  2. Rebus ayam yang telah di potong2 bersama dengan bumbu yang telah di haluskan. Tambahkan garam. aduk rata.
  3. Masak hingga ayam empuk dan air menyerap.
  4. Panaskan minyak. Masukan ayam kedalam minyak yang telah dipanaskan. goreng hingga ayam berwarna kecoklatan.
  5. Hidangkan.

Ada perbedaan antara memasak ayam goreng bumbu kuning menggunakan ayam broiler dengan menggunakan ayam kampung atau ayam pejantan. Karena daging ayam kampung atau ayam pejantan tidak memiliki banyak air dan lemak, maka tambahkan lebih banyak air pada proses pemasakan untuk daging ayam matan sempurna. Jangan lupa untuk menggunakan api kecil/sedang selama merebus, supaya bumbu yang telah diracik tak sia-sia larut dalam air saja, tetapi dapat meresap sampai ke dalam tulang.

Di Ayam Goreng Fatmawati, ayam pejantan sebagai standar ayam yang digunakan untuk mengolah ayam goreng kuning, direbus dengan racikan bumbu dari rempah asli Indonesia antara lain kunyit, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, ketumbar, gula putih, dan garam, sehingga tercipta cita rasa yang lezat yang meresap sampai ke tulang ayamnya. Penggunaan penguat rasa/MSG tidak dilakukan dalam mengolah ayam goreng kuning di Ayam Goreng Fatmawati, sehingga rasa nikmatnya tidak meninggalkan dahaga yang luar biasa seperti pada umumnya setelah kita mencicipi masakan yang mengandung MSG.
Ayam dihidangkan setelah digoreng terlebih dahulu hingga menimbulkan aroma yang khas dan dapat menggugah selera untuk mencicipinya.

Pernah mendengar ayam laut ??? Ayam laut bukan jenis ikan, atau mahluk yang hidup di laut, tapi sebutan bagi masakan yang dibuat oleh adik saya.
Saking sayangnya adik saya kepada kakaknya, maka sang adik mencoba menyiapkan sebuah masakan special yang belakangan diberi nama “ayam laut”, nama yang cukup aneh untuk sebuah masakan. Cerita berawal atas inisiatif dan percaya diri yang tinggi dari seorang adik yang sebetulnya dia tidak bisa masak. Mencoba memasak ayam dengan penuh semangat karena dia yakin dengan resep tersebut yang dia dapat dari ibu saya melalui telepon karena tempat tinggal kami yang berjauhan.
Dengan keringat bercucuran dan bumbu bumbu berserakan akhirnya selesailah makanan tersebut… Ta..ra… terhidanglah makanan di atas meja tertata dengan rapi. Ehm…tampilannya masakan tersebut menggairahkan gumamku, rasa lapar yang mampir di perut membuat nasi dan ayam dalam sekejap langsung berpindah ke piring. Namun alangkah terkejutnya ketika makanan masuk mulut dan indra perasaku merasakan masakan itu, tiba-tiba dalam hitungan detik lidah terasa kejang, o..oo apakah penyebabnya…? Rupanya sepotong ayam di dalam mulut menyebabkan lidah tidak bisa bergerak. Rasa ayam itu benar benar dahsyat asinnya!!!!!. Untung tidak langsung masuk kedalam perut, jika terlanjur masuk, mungkin ususpun bisa tertular kejang.
Usut punya usut ternyata resep yang dijelaskan oleh ibu adalah untuk 1 ekor ayam yang kemudian dalam prakteknya, adik saya memasukkan porsi garam yang sama untuk setiap 1 potong ayam. Akibat salah tangkap dan salah informasi hasil makanan yang di masak penuh rasa sayang itupun gagal total.
Melihat pengalaman di atas saya tidak mau terulang lagi kejadian itu. Jika bumbu masak instant bermerek lainnya biasanya hanya punya rasa gurih dari MSG, berbeda dengan ‘Rempah Spice’ untuk masakan ayam kuning, bumbu ini penggunaannya praktis sekali, tidak perlu mengeluarkan bumbu-bumbu yang ada di rumah, semua bumbu yang di perlukan sudah ada didalam satu kemasan. Memasaknya tinggal melihat petunjuk yang tertera di kemasan, masaknya pun tidak membuat keringat bercucuran. Bumbu ini berbentuk powder dan aromanya ehm….membuat kita laapaarrr…. Masakan terhidang cepat dan dijamin enak. Yang pasti saya mengucapkan selamat tinggal ayam laut, ayam yang terlalu banyak bergaul dengan garam. Dijamin, dengan ‘Rempah Spice’ makanan itu tidak akan pernah mampir di lidah lagi…..
Sssst mau tahu lagi tidak, kalau ‘Bumbu Rempah Spice’ itu rasanya hampir serupa dengan masakan Ayam Goreng Fatmawati. Jenis masakannya juga beragam. Nah kalau mau disayang dan dipuji keluarga, bisa dicoba memasak dengan bumbu-bumbu ini. Selamat mencoba…..!

Delicious Restaurant designed by Free Wordpress Themes | Wordpress Themes | Hosting und Webspace