Arsip Kategori: Forum Franchisee

Empat Kali Saya Gagal Beli Franchise

Jum’at malam 22 Oktober 2010 tim franchise & marketing Ayam Goreng Fatmawati berkesempatan datang ke pusat kuliner Bintaro Sektor 9 atau dikenal dengan Bintaro 9 Walk-Tangerang. Tiba sekitar pukul 19.30 dibawah langit yang sedang menurunkan titik-titik gerimis air hujan, lokasi yang dituju terlihat ramai pengunjung yang memarkirkan kendaraannya di sepanjang area parkir yang tersedia di setiap restoran dan tenda warung makan. Bertemu dengan Pak Hendri dan Pak Imam, pemilik dan pengelola dua ruko dengan halaman yang tertutup kanopi untuk menempatkan meja dan kursi makan, khas lingkungan di sepuratan Bintaro 9 Walk. Rupanya beliau berdua cukup senang dengan bisnisnya di Bintaro 9 Walk. Dengan omset dua outlet makanannya : pisang pontianak dan aneka mie, serta beberapa outlet/stall makanan lainnya yang mencapai Rp. 3 juta per hari, sejatinya bisnis sudah bisa jalan. Namun Pak Hendri memandang bahwa sebenarnya potensi yang dimiliki bisa jauh lebih baik lagi. Menilik beberapa bisnis franchise menawarkan kerjasama, Pak Hendri seakan enggan untuk “kembali” ambil resiko kegagalan. “Saya sudah empat kali ambil franchise, tidak ada yang sukses. Terkahir saya habis 400juta untuk franchise lembaga pendidikan, sampai saat ini belum terlihat tanda balik modal”. Wajar ketakutan dari Pak Hendri, karena sebagai franchisee tentunya berhadap besar kepada franchisor agar investasinya cepat kembali. Namun perlu diingat, franchising bukan berarti franchisee hanya menanamkan uang, lantas berharap modalnya segera kembali tanpa perlu kerja keras mengelola dan menjual bisnisnya. Franchising hanya salah satu cara untuk meminimalkan resiko kegagalan, mempersingkat proses trial & error, memanfaatkan nama merek (brand) yang sudah terkenal. Namun tetap, perlu keterlibatan langsung dari pengelola dalam menjalankan bisnisnya. Istilahnya, franchisee yang ikut nyebur kemungkinan sukses-nya akan lebih tinggi dibandingkan franchisee yang hanya menanamkan modal dan menunggu uangnya kembali. Namun bukan tanpa solusi bagi investor semacam Pak Hendri yang hampir paranoid dengan sistem franchise karena berkali-kali gagal di bisnis ini. Ada beberapa franchisor yang menawarkan konsep operasional dari kantor pusat franchisor. Tentunya dalam hal ini, si franchisor tidak akan gambling melakukan approval terhadap lokasi yang masih meragukan potensinya. Karena selain tim franchisor yang akan direpotkan dengan angka penjualan yang rendah, juga akan merusak reputasi franchisor dimata franchisee-nya.
Layak Franchise-kah?

Layak Franchise-kah?

Franchise Fee & Royalty Fee

Dalam bisnis franchise, terdapat 2 biaya yang dikenal sebagai kompensasi dari hubungan franchisor-franchisee, yaitu :
  1. Franchise Fee
  2. Royalty Fee
Franchise fee atau biaya awal waralaba adalah biaya yang harus dibayarkan dimuka sebelum gerai waralaba Anda mulai beroperasi. Pada prinsipnya biaya ini dibayarkan untuk :
  • Lisensi atau hak untuk menggunakan merk yang diwaralabakan selama jangka waktu waralaba
  • Hak untuk menggunakan (meminjam) pedoman operasional selama jangga waktu waralaba
Berapa besarnya? Tergantung kebijaksanaan franchisor. Tapi sejatinya ini sangat penting untuk anda tanyakan, apakah biaya awal waralaba telah termasuk hal-hal berikut :
  • Survey Lokasi
  • Design layout
  • Informasi berupa daftar inventory awal, termasuk stock barang yang dibutuhkan
  • Sourching (pencarian supplier) untuk initial inventory dan stock barang
  • Bimbingan dan diskusi untuk menyusun business plan
  • Rekrutmen dan tau seleksi para pegawai mula-mula
  • Penyelenggaraan pelatihan awal
  • Supervisi dan eksekusi launching
Royalty Fee adalah biaya yang harus dibayar setelah gerai waralaba mulai beroperasi. Pada umumnya pewaralaba menetapkan pembayaran  harus dilakukan setiap awal bulan, misalnya sebelum tanggal 10 setiap bulan. Metode royalty ini beragam, manun pada umumnya berupa persentase terhadap setiap penghasilan yang diterima franchisee, dengan mengecualikan unsur pajak, bila ada. Ada yang menetapkan flat, berapapun omset yang diraih franchisee maka prosentasenya tetap tidak berubah. Namun ada juga yang melakukan penetapan persentase progresif sesuai dengan nilai penjualan franchisee dengan batasan minimal omset tentunya. Pada prinsipnya, royalty fee ada dan digunakan untuk :
  • Kelangsungan operasional pewaralaba dalam kaitannya dengan bimbingan berkesinambungan bagi para terwaralaba
  • Pelaksanaan aoudit waralaba dan evaluasi bisnis yang keduanya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari bimbingan berkesinambungan.
  • Penelitian dan pengembangan (R&D) Pengelolaan merk dan strategi pemasaran

Setiap Masakan Ada Bumbu Sendiri Datang Dari Indonesia

Lagi, Ayam Goreng Fatmawati menjadi objek yang menarik untuk liputan majalah kuliner online di Malaysia. Jika sebelumnya Ayam Goreng Fatmawati cabang Damansara Perdana-Petaling Jaya-Kuala Lumpur-Malaysia ini diliput oleh Foodster, saat ini diliput “EATS” dengan tagline-nya “the good food guide”. Pak Januar-pun (franchisee) ikut nampang di majalah tersebut. Semoga berdampak baik bagi perkembangan Ayam Goreng Fatmawati di Malaysia. Berikut isi liputan tersebut :

MELIHAT papan tanda bertulis masakan asli Indonesia yang tertera pada papan tanda Restoran Ayam Goreng Fatmawati di Damsara Perdana, penulis mengagak masakan yang dihidangkan ialah sajian Padang.

Namun, apabila meneliti menu disenaraikan, ternyata sangkaan penulis jauh meleset. Tiada gulai lemak atau kerutuk seperti lazimnya dihidangkan di restoran masakan Padang.

Melayani Tamu

Melayani Tamu

Sebaliknya, antara sajian istimewa di restoran berkenaan ialah soto, ayam kampung, ikan bakar, sup iga (tulang rusuk) dan sup ekor.

Mendapatkan penjelasan lanjut daripada pemilik restoran, Januar Parlaungan, 33, baru penulis tahu restoran berkenaan meyajikan masakan Sunda.

Kebanyakkan masakan disediakan dalam set, misalnua set soto mengandugi soto ayam atau daging, emping dan pilihan teh O ais atau sirap.

Set ayam kampung pula disertkan taju dan tempe, set sup iga disertakan nasi, ulam, emping dan minuman manakala set bawal dilengkapi bawak bkar, nasi, tauhu dan tempe, sup kosong dan minuman.

Sebayak 34 menu masakan Sunda disediakan menerusi restoran berkonsep francais dari Indoensia itu. Setiap masakan mempunyai bumbu sendiri yang didatangkan dari cawangan restoran itu di Indnesia bagi mengekalan rasa dan standard di semua cawangan.

Pak Januar, The Owner

Pak Januar, The Owner

Januar turut menambah menu sate Maranggi, iaitu sate Sunda sebagai pilihan kepada pelanggan.

Walaupun tujuan membuka restoran masakan Sunda ialah memenuhi permintaan rang Indonesia yang mhukan masakan asli negara itu disini, kira-kira 80 peratus pelanggan adalah penduduk tempatan.

\”Ciri masakan Sunda adalah makanannya ringkas dan banyak menggunakan sos kacang (kuah kacang). Masakannya tidak pedas tetapi dimakan bersama sambnal selain dilengkapi ulam seperti timun, salad, kacang panjang dan kubis.

\”Di Indonesia, ulam lain seperti daun kemangi dan terung pipit turut menjadi kesukaan, tetapi restoran ini tidak menyediakan ulam itu kerana sukar didapati di sini,\” katanya.

Dibuka sejak September tahun lalu, cawangan Restoran Ayam Goreng Fatmawati pertama di negara ini turut menyediakan sup kosong bagi disesuaikan dengans elera tempatan. Restoran Ayam Kampung Fatmawati yang muka dibuka 23 tahun lalu kini mempunyai 60 cawangan.

\”Saya membuka restoran ini bersama rakan kongsi iaitu penduduk tempatan. Selepas sebulan membuka restoran ini, baru kami menyedari perlunya menyediakan sup kosong kerana ramai pelanggan beryanya, \’mana sup kosong\’?

\”Rupa-rupanya orang di sini gemar makan makanan disertakan kuah berbanding di sana yang lebg gemar makana tanpa kuah,\” katanya.

Dibuka dari jam 11.30 pagi hingga 10.00 malam, restoran ini menyediakan hidangan tengah hari, petang dan malam.

Menurutnyam antara menu popular ialah set soto yang sering dipesan pelanggan perempuan selain set ayam kampung bakar atau goreng, bawal bakar dan sup iga.

\”Soto dimakan bersama sambal bajak iairu sambal goreng campuran cili besar, dan cili padi, buah keras, daun salam dan serai. Kami turut menyediakan sambal kicap berdasaikan permintaan pelanggan. Ia diadun dengan potong cili padi, kicap, tom,ati dan bawang.

\”Selain itu, set ayam kampung ada dua pilihan samabal iaitu sambal bajak atau sambal belacan. Selain nasi kukus menjadi sajian dalam set pelanggan bolen memesan nasi timbel iaitu nasi yang dikukus dalam daun pisang. Rasa dan aroma daun pisang itu pasti membangkitkan selera,\” katanya.

Nasi putih kukus dijual dengan harga RM1.50 manakala nasi timbel RM2. Restoran itu turut turut menyajikan nasi goreng berharga RM5 dengan ramuan siap dari dapur berpusat restoran itu di Indonesia. Pelanggan boleh memilih sama ada nasi goreng ayam, makanana laut atau hati dan pedal. Jika mahukan semua campuran berkenaan yang juga dipanggil \’nasi goreng gila\’, mereka perlu menambah RM1.

Januar berkata, antara masakan Sunda lain ialah sayur asem iaitu masakan tradisional seperti \’bening\’ atau sayur rebus yang dibubuh labu, kacang panjang, kacang tanah, mangga muda dan jagung serta asam jawa dan bawang kecil. Bagaimanapun, menu ini kurang sesuai dengan selera masyarakat di sini.

Daftar Harga

Daftar Harga

Sumber : http://eats.emedia.com.my/review.php?id=192

Saluran Komunikasi untuk Customer

ShoutMix Chat

ShoutMix Chat

Komunikasi adalah hal terpenting dalam menjalankan bisnis franchise. Karena alasan bisnis pada umumnya hanya jadi pertimbangan awal calon franchisee dalam menilai kelayakan franchisor untuk menjadi partner bisnisnya. Setelah bergabung jadi franchisee dan merasa cocok dengan “sistem” kerja yang dijalankan franchisor, maka penilaian untuk mengembangkan jumlah outlet tidak lagi karena alasan keuntungan yang dijanjikan, tetapi lebih kepada cara franchisor dalam menjalin komunikasi dengan franchisee. Karena pada dasarnya franchising merupakan bisnis relationship. Jika franchisee sebagai salah satu customer sudah pasti dapat berinteraksi langsung dengan franchisor setiap saat, maka ada customer lain yang kerap tidak diberikan akses langsung terhadap franchisor. Adalah customer langsung produk dan jasa yang ditawarkan di setiap store franchise yang mengalami kesulitan untuk menyampaikan seluhannya langsung kepada franchisor. Di era web 2.0 ini, customer yang tidak puas dengan produk dan jasa mungkin saja tidak menyampaikan complain pada saat transaksi berlangsung di store bersangkutan, namun langsung buka handphone, akses facebook, twitter, kaskus atau media jejaring sosial lainnya untuk menyampaikan unek-unek-nya. Dampaknya hampir dapat dipastikan : lebih banyak orang yang mengetahui kekurangan kita tanpa bisa kita selesaikan dengan cepat, karena di jejaring sosial informasi menyebar dengan cepat. Sehingga informasi yang kita dapatkan akan sangat terlambat. Sebagai franchisor yang peduli, PT. Ayam Goreng Fatmawati Indonesia memberikan fasilitas bagi customernya untuk menyampaikan komentar-komentarnya melalui beberapa channel. Melaui telpon, fax, e-mail, facebook, blog ataupun yahoo messenger. Untuk mempermudah interaksi, website www.fatmawati.com mempunyai fasilitas YM!Chat yang memungkinkan bagi setiap pengunjung web untuk berinteraksi langsung dengan administrator web walaupun pengunjung web tersebut tidak mempunyai account yahoo!. Tak ingin melewatkan informasi mengenai Ayam Goreng Fatmawati yang ditulis pengguna internet namun tidak melalui jalur yang telah disediakan, PT. AGFI dengan bantuan google.com mempunyai sistem alert manakala ada tulisan yang berkaitan dengan AGF yang ditemukan google.com. Langkah ini sangat berarti untuk mengetahui apa yang diharapkan konsumen dari AGF, termasuk komentar jujur dan tanpa diminta dari customer yang dituliskan secara sukarela di blog mereka. Franchising, apalagi bisnis kuliner seperti Ayam Goreng Fatmawati memang harus terus membina komunikasi dengan konsumennya, supaya bisnis tetap bertahan dan terus berkembang.

Pesan Delivery bu Chat

Pesan Delivery by Chat

Status YM!

Status YM!

YM! PingBox

YM! PingBox

Sinergi PT. AGFI dengan Franchisee

Franchise semestinya merupakan satu bentuk kerjasama yang saling mengisi antara satu pihak dengan pihak lainnya. Begitu juga yang dilakukan oleh PT. Ayam Goreng Fatmawati Indonesia bersama partnernya, franchisee Darmadji group yang mengelola 5 outlet di Jakarta-Bogor dan Rifa’i Trading Company (RTC) yang membawahi 9 cabang di Jakarta. Lanjut membaca

Sales Script Training

Anda menonton “Bosan Jadi Pegawai” yang ditayangkan Minggu, 24 Mei 2009 pukul 12.00 di TransTv? Yang menjadi perhatian saya adalah saat sang karyawan yang belum tahu mengenai seluk beluk mengenai produk (product knowledge) diminta untuk bertemu customer yang butuh informasi mengenai spesifikasi produk, waktu pelaksanaan order dan lain-lain. Kontan sang karyawan yang bercita-cita jadi entrepreneur tersebut tidak bisa memberikan penjelasan yang akurat dan akhirnya tidak terjadi deal antara calon konsumen dengan sang karyawan.

Dalam setiap proses penjualan pastikan sales mempunyai product knowledge yang mumpuni untuk menjelaskan produknya atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan calon konsumen. Beberapa perusahaan menyusun daftar pertanyaan dan jawaban yang sering diajukan yang lebih dikenal sebagai FAQ (Frequently Asked Question), ada pula yang sampai dijabarkan kedalam Sales Script. Sales Script disusun karena kegiatan tersebut dianggap rutin, maka sales dianggap harus secara otomatis menjwab pertanyaan-pertanyaan yang kerap diajukan dan sudah tahu jawabannya, tidak ada jeda waktu berfikir, sehingga sales dapat menyelesaikn permasalahan di lapangan dengan lancar dan mengalir begitu saja, walaupun sebenarnya telah disusun Sales Script-nya.

PT. Ayam Goreng Fatmawati Indonesia memandang perlu adany panduan mengenai hal ini, karena itu diperlukan tools yang efektif dan efisien untuk menyelesaikan negosiasi dan menutupnya dengan transaksi. Tools itu antara lain :

  • Product Knowledge, sebagai dasar pengetahuan mengenai produk dan jasa yang akan dijual.
  • Frequently Asked Question, sebagai short cut (jalan pintas) untuk menjawab pertanyaan customer, sehingga kita mempunyai jawaban atas pertanyaan yang belum ditanyakan customer.
  • Sales Script, untuk memperlancar komunikasi, meningkatkan nilai transaksi setiap kedatangan dan meningkatkan loyalitas customer.
Sales Script Training

Sales Script Training

Antuas Peserta Sales Script Training

Antuas Peserta Sales Script Training

Training Sales Script bagi seluruh karyawan restoran dan foodcourt Ayam Goreng Fatmawati telah dilaksanakan dengan sukses pada hari Rabu, 20 Mei 2009 di Ruang Training-Bantarjati, Kota Bogor.

Ayam Goreng Fatmawati, Ditiru dan Dijiplak

Hari Jum’at jam 13.30 Ibu Christine Novita bersama bunda-nya, Ibu Aris, datang langsung dari Semarang ke kantor PT. Ayam Goreng Fatmawati Indonesia di Kinanti Office Hotel Salak Bogor. Itulah bukti keseriusan Ibu dan Anak ini dalam mengelola Ayam Goreng Fatmawati di wilayah Semarang. Sejak mulai bekerja sama tiga tahun yang lalu, praktis kerja sama antara PT. AGFI dengan Ibu Christine tidak menemui kendala yang berarti. Komunikasi begitu lancar melalui telpon, SMS, e-mail, pokoknya semua media komunikasi kami gunakan untuk memperlancar komunikasi. Ibu Christine sangat terbuka jika menemui kendala dalam operasional, seperti yang pernah dihadapi mengenai karyawan yang meninggalkan AGF hanya beberapa bulan setelah menjalani training. PT. AGFI memberi solusi dan solusi itu terbukti efektif dijalankan di AGF Semarang. Saat Ibu Christine gundah karena tetangga kiri-kanan mulai ikut menjual ayam goreng, kita coba dengan variasi menu baru dan ternyata juga berhasil menarik konsumen, karena AGF menjadi satu-satunya penyedia masakan bebek goreng di sekitar lokasi. Karena tergiur dengan tingginya omset AGF ini, outlet tetangga yang awalnya jual mie, kopi, steak, chinesse food mulai beralih menjual ayam goreng. Namun, sebagai trend setter, Ayam Goreng Fatmawati tidak pernah kehabisan ide untuk menarik konsumen. Kami masih punya banyak menu baru, banyak strategi baru untuk memenangkan persaingan. Langkah yang sangat tepat bagi Ibu Christine jika hari ini beliau menandatangani perjanjian franchise untuk memperpanjang masa lisensi Ayam Goreng Fatmawati di Duta Pertiwi Mall.
Paragon City, Semarang

Paragon City, Semarang

Pada pertemuan itu juga Ibu Christine memaparkan rencana pembukaan AGF di Paragon City-Semarang, pusat perbelanjaan di bilangan Jl. MH. Thamrin yang saat ini baru 60% dibangun. Konsultasi mengenai lokasipun terjadi dan kami memutuskan untuk buka restoran disana dengan space 51 m2. Semoga projek kedua Ibu Christine di Semarang ini berjalan dengan jauh lebih baik lagi, tentunya dengan kerja keras tim AGF Semarang didukung oleh management PT. AGFI.

Ayam Goreng Fatmawati ke Banda Aceh

Setelah beberapa kali merencanakan untuk datang ke kantor PT. AGFI di Hotel Salak Bogor, batal dengan alasan tidak ada teman, kami anggap wajar, karena beliau ini dari Banda Aceh, mungkin tidak tahu daerah Bogor fikir kami waktu itu. Rupanya Bapak Mardiansah adalah keturunan Aceh yang lahir di Semarang dan saat ini menetap bersama keluarga di Jakarta. Tapi saya salut dengan semangat mengembangkan daerahnya, tanpa disadari beliau menceritakan bahwa untuk kegiatan ekonomi dan bisnis, Banda Aceh jauh lebih kondusif dibandingkan dengan Jakarta. Beliau merasa yakin bahwa Ayam Goreng Fatmawati yang akan dibawanya ke Banda Aceh akan mendapatkan perhatian dari masyarakat. Ayam Goreng Fatmawati memang telah hadir di Takengon-Aceh Tengah, lebih dari 9 jam perjalanan dari Banda Aceh. Itu yang kemudian membuat motivasi pengusaha muda ini terus bergejolak, terlebih salah satu saudara-nya di Aceh, telah mencicipi lezatnya masakan Ayam Goreng Fatmawati di Takengon yang membuat keyakinan keluarganyapun semakin tinggi. Pak Mardiansyah, setelah mengisi kuisioner dinyatakan sebagai Calon Franchisee yang Potensial. Semoga kerjasama bisnis ini bisa terlaksana dan berjalan sesuai rencana kita : sukses dan menghasilkan laba berlimpah.
Hasil Kuisioner Calon Franchisee

Hasil Kuisioner Calon Franchisee

Sharing antar Franchisee

sharing-franchisee Baru saja selesai pertemuan yang dinakhodai Bpk. Firman sebagai marketing manager PT. AGFI dengan Ibu Yenti dan Ibu Helen sebagai franchisee Ayam Goreng Fatmawati. Selain sosialisasi rencana program promosi bersama Indomaret dan program kerjasama dengan PT. Sinar Sosro, pertemuan kali ini dimanfaatkan pula untuk sharing pengetahuan dan pengalaman selama mengelola restoran Ayam Goreng Fatmawati. Kenny, tim supervisor AGF Bogor Trade Mal (BTM) dan Ekalokasari mengutarakan beberapa permasalahan yang dihadapi selama bertanggung jawab sebagai supervisor kedua AGF yang dikelolanya. Gayung bersambut, tanpa diminta oleh pihak PT. AGFI, Ibu Yenti seorang franchisee AGF yang telah delapan tahun bergabung dengan AGF dan telah banyak mencicipi asam garam pengelolaan AGF memberikan penjelasan dengan sangat gamblang, sederhana, mengena dan aplicable serta tidak disadari bahwa permasalahan sebenarnya yang dihadapi Kenny adalah memonitor dan memastikan penerapan SOP supaya berjalan dengan baik. Begitu banyaknya yang didiskusikan dan dijelaskan oleh Ibu Yenti, tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 13.00. Akhirnya kami sepakat mengakhiri pertemuan ini dengan hasil yang didapat oleh masing-masing pihak berupa solusi yang sangat berharga. Semoga forum ini bisa terus berlanjut dan berkembang menjadi lebih besar.